close
close
0

Mengapa Keahlian Berbicara itu sangat Penting?
karena berbicara adalah salah satu cabang dalam keterampilan berbahasa sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
oleh sebab itu
kita harus berusaha benar dalam berbicara karena ada orang yang hanya karena
salah bicara bisa menyebabkan masalah, pertengkaran dan salah dalam mengubah nasibnya.
orang yang terampil dalam berbicara bisa
- menutupi kelemahan dirinya
- meredam kemarahan
- mendamaikan pertengkaran
Sesi #2 : 23 maret
3 hakikat (batasan) berbicara
1. Berbicara ialah : kemampuan mengucapkan artikulasi atau kata kata untuk meng-ekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
2. Berbicara ialah: suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang terlihat (visible). Yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot manusia demi maksud, tujuan, gagasan2 yang dikombinasikan.
3. Adalah suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor2 fisik, ilmu kejiwaan, otak, semantik (makna), linguistik, sedemikian intensif secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting secara kontrol.
3 Kiat Menjadi Pembicara Yang Efektif
agar dapat menyampaikan gagasan secara efektif, pembicara sebaiknya
1. Memahami segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan
2. Mampu mengevaluasi efek komunikasi terhadap pendengar
3. Harus mengetahui prinsip2 yang mendasar, segala situasi pembicara baik secara umum maupun perorangan

Dikirim pada 13 April 2013 di Campuran






Selain digunakan sebagai alat komunikasi secara lisan dan tulisan. Apalagi bahasa dalam bentuk tulisan yang sangat dibutuhkan dalam berbisnis dan bernegara. Bila salah dalam menulis dan ejaan maka bisa menimbulkan masalah seperti salah paham dan salah tafsir.



Di Indonesia, masalah ejaan dan penulisan kata adalah menjadi masalah yang sering terjadi, contoh yang paling umum iklan “DI JUAL RUMAH, tanpa perantara, hubungi 021 1234567” kata DI yang ditulis terpisah menjadi kata depan, padahal kata DI berfungsi sebagai imbuhan “di” seharusnya ditulis serangkai dengan kata jual, di+jual menjadi DIJUAL, bukan di jual (nama kota atau tempat). Dengan demikian bahasa mnjadi benar-benar berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan benar, dengan penyampaian informasi secara tertulis yang benar, diharapkan masyarakat dapat menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang memilik peran yang cukup besar dalam mengatur tata tertib berbahasa tulisan sehingga setiap informasi dapat disampaikan dengan baik, benar dan tepat sasaran.

Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar bentukan kata berimbuhan. Misalnya dalam bahasa Indonesia, kata makan adalah kata dasar dari kata makanan.



Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya:

Mereka makan tiga kali sehari.

Kata Turunan (Imbuhan)
Kata Turunan ialah kata dasar yang telah dirangkai dengan imbuhan yang disebut juga Afiks adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata – entah di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara tiga itu – untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata dasar atau kata yang pertama.



Imbuhan digolongkan berdasarkan posisi penambahannya sebagai berikut:

1. awalan

2. Sisipan

3. Akhiran

4. konfiks

Misalnya:

baca + di = dibaca (pemenggalannya: di-ba-ca)

gigi + er = gerigi (pemenggalannya: ge-ri-gi)

baca + an = bacaan (pemenggalannya: ba-ca-an)

dibaca + kan = dibacakan

gerigi + ber = bergerigi

Morfem-morfem terikat di-, -er-, -an, -kan, dan

ber- itulah yang disebut imbuhan atau afiks.

2. Fungsi Imbuhan

Imbuhan, dalam bahasa Indonesia, berfungsi sebagai pembeda arti. Suatu kata akan berubah artinya jika mendapat imbuhan tertentu. Suatu kata juga akan berbeda artinya jika mendapat imbuhan yang berbeda.

Misalnya:

Kata dimakan ≠ memakan ≠termakan ≠ pemakan ≠ makanan, meskipun berasal dari kata dasar yang sama, yaitu makan

3. Jenis-jenis Imbuhan

Berdasarkan posisinya, imbuhan dapat dibeda-kan atas tiga jenis, yaitu:

1. Awalan atau prefiks, yang meliputi: ber-, se-, me-, di-, ter-, ke-, pe-, dan pe/’-.

2. Sisipan atau infiks, yang meliputi: -er-, -el-, dan -em-.

3. Akhiran atau sufiks, yang meliputi: -i, -kan, -an, -nya, -wan, -wati, dan -man.

Itulah pengertian, jenis dan fungsi imbuhan



Kesalahan Kata Imbuhan

Kesalahan penggunaan imbuhan yang salah atau tidak tepat.
Tidak menggunakan imbuhan pada kata yang memerlukan.
Menggunakan imbuhan pada kata yang tidak memerlukan.
Penulisan

1. a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.

Misalnya:



berjalan

dipermainkan

gemetar

kemauan

lukisan

menengok

petani



b. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.

Misalnya:



mem-PHK-kan

di-PTUN-kan

di-upgrade

me-recall



2. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)

Misalnya:



bertepuk tangan

garis bawahi

menganak sungai

sebar luaskan



3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab III, Huruf E, Butir 5.)Misalnya:



dilipatgandakan

menggarisbawahi

menyebarluaskan

penghancurleburan

pertanggungjawaban






Gabungan Kata
Gabungan Kata atau Kata Majemuk adalah gabungan kata-kata yang membentuk makna baru yang salah satu katanya bukan predikat (non predikatif). Contohnya kata rumah makan yang bermakna baru yaitu restoran. Kata makan bukan sebagai predikat.



Penulisan kata majemuk

Penulisan Kata majemuk ada tiga cara, yaitu:

1. Penulisan terpisah

2. Penulisan dengan tanda hubung, dan

3. Penulisan serangkai



1. Unsur unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya:

duta besar

model linear

kambing hitam

orang tua

simpang empat

persegi panjang

mata pelajaran

rumah sakit umum

meja tulis

kereta api cepat luar biasa




2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yangbersangkutan.

Misalnya:

anak-istri Ali

anak istri-Ali

ibu-bapak kami

ibu bapak-kami

buku-sejarah baru

buku sejarah-baru




3. Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.

Misalnya:

acapkali

darmasiswa

puspawarna

adakalanya

darmawisata

radioaktif

akhirulkalam

dukacita

saptamarga

alhamdulillah

halalbihalal

saputangan

astagfirullah

kacamata

sebagaimana

bilamana

manasuka

sukarela

bismillah

matahari

sukaria

bumiputra

padahal

syahbandar

daripada

peribahasa

waralaba





Kata Sandang
Kata si dan sang, Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

· Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.

· Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.

· Ibu itu membelikan sang suami sebuah laptop.

· Siti mematuhi nasihat sang kakak.

Catatan:

Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika kata-kata itu diperlakukan sebagai unsur nama diri.Misalnya:

· Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.

· Dalam cerita itu Si Buta dari Goa Hantu berkelahi dengan musuhnya.

Partikel
Partikel lah, kah, per, pun dan tah ada yang ditulis serangkai, ada yang terpisah.



1. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!

Apakah yang tersirat dalam surat itu?

Apatah gunanya bersedih hati?





2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.

Misalnya:

Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.

Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.

Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.

Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.



Catatan:

Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Misalnya:

Adapun sebab sebabnya belum diketahui.

Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.

Baik laki laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.

Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.

Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.



3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:

Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.

Harga kain itu Rp50.000,00 per helai.

Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.



Per yang ditulis serangkai



Misalnya:

seperenam belas

(1/16)

tiga perempat

(3/4)



Catatan:

(1)

Tanda hubung dapat digunakan dalam penulisan lambang bilangan dengan huruf yang dapat menimbulkan salah pengertian.



Misalnya:

20 2/3

(dua puluh dua-pertiga)

22/30

(dua-puluh-dua pertiga puluh)


Dari hasil pembahasan di atas maka kami dapat menarik kesimpulan:

1. Kata dasar ialah kata yang menjadi dasar kata berimbuhan (kata turunan)

2. Kata Turunan ialah kata dasar yang telah dirangkai dengan imbuhan

3. Kata sandang adalah kata yang tidak memiliki arti tapi menjelaskan kata benda, contohnya adalah si, dan sang

4. Kata Ulang atau reduplikasi adalah Kata jadian yang terbentuk dengan pengulangan kata.

5. Gabungan kata (kata majemuk) adalah gabungan dua kata atau lebih yang menghasilkan makna baru yang ditulis terpisah atau serangkai

6. Kata ganti adalah kata yang dipergunakan untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan.

7. Partikel lah, kah, per, pun dan tah ada yang ditulis serangkai, ada yang terpisah.



Sumber Bacaan


Depdiknas RI, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,

“Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Yrama Widya, 2009



Dikirim pada 04 Desember 2012 di Campuran


Siapa saja yang Menyepelekan Bahasa Arab, maka dia akan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap permasalahan agama.

seseorang tidak akan dapat memahami kitab dan sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab.



Bahasa Arab, Bahasa yang Paling Cepat Berkembang di Kalangan Pelajar AS



Hukum Mempelajari Bahasa Arab

Syaikhul Islam Berkata: “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:

مَا لاَ يَتِمٌّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Namun disana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata: Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.”

Dan pada riwayat lain, Beliau (Umar bin Khattab) berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah faroidh (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

reff : muslimah or id dan eramuslim com

mari belajar dengan cara mudah dengan ruas jari tangan kanan





Dikirim pada 31 Oktober 2011 di Campuran
Profile

Pada Tahun 2007, Lativi (TVOne) Meliput peresmian RumahCahaya (RC) Oleh Penulis Bunda HTR n Ananda Faiz, RC dapat menambah koleksi buku dari para Pembaca yang membeli Karya Kami dan siswa les pelatihan: secara tidak langsung menyumbang RC agar tetap terus berusaha mencerdaskan bangsa, aamiin... (Anas Mr AnasAyahara) More About me

Tag

    Foto n Kisah Peresmian
    Photobucket

    Les-SemiPrivat Hemat
    Photobucket
    Video Motivasi
    Sekilas Kegiatan Di Rumah Baca:
    Balita Menulis Abatasa
    Belajar Mengggambar
    Belajar Bahasa

    ONLINE FIL ARDHI

    HARI APA ANDA DILAHIRKAN
    ALMANAK
@ideAnas
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 2.535.829 kali


connect with ABATASA